[Ilmu Budaya Dasar] Makalah Kebudayaan Mesir Kelompok 7 1PA08

KEBUDAYAAN MESIR




Disusun oleh :
Kelompok 7
Adita Nurul Hapsari (10517150)
Ayu Sari Rahayu (11517083)
Fitri Laelasari (12517410)
Karina Intan Permatasari (13517237)
Oktania Ika Pratiwi (14517650)
Titin Hartini (15517975)


Fakultas Psikologi
Universitas Gunadarma

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang kebudayaan Mesir.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal, dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Ibu Melaniawati, Amd, SIP, selaku dosen pengajar mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang kebudayaan Mesir ini dapat memberikan manfaat terhadap pembaca.



Depok,  25 September 2017


Penyusun                    
i
 

 


DAFTAR ISI
Daftar Isi............................................................................................................................... i
Kata Pengantar.................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................... 1
1.1  Latar Belakang......................................................................................................1
1.2  Rumusan Masalah.................................................................................................1
1.3  Tujuan...................................................................................................................1
1.4  Manfaat.................................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................ 2
            2.1 Definisi Kebudayaan........................................................................................... 2
            2.2 Definisi Kebudayaan Menurut Para Ahli............................................................ 2
2.3 Bahasa................................................................................................................. 2
2.4 Pakaian................................................................................................................. 3
2.5 Makanan.............................................................................................................. 4
2.6 Kepercayaan ....................................................................................................... 4
2.7 Sistem pemerintahan............................................................................................ 5
2.8 Tradisi atau Ritual................................................................................................ 5
2.9 Kesenian.............................................................................................................. 7
2.10 Arsitektur........................................................................................................... 7
BAB III PEMBAHASAN................................................................................................... 9
            3.1 Letak Geografis....................................................................................................9
            3.2 Pembagian Zaman kebudayan Mesir...................................................................9
            3.3 Kebudayaan Mesir................................................................................................10
            3.4 Hasil Kebudayaan atau peninggalan kebudayaan Mesir......................................11
BAB IV PENUTUP............................................................................................................. 13
            4.1 Kesimpulan ..........................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 14
ii
 

 


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mesir mempunyai banyak peradaban, mempunyai banyak kisah-kisah yang mungkin belum tentu banyk orang mengetahui tentangnya yang dimana peradaban yang sejak Nabi SAW hingga masa kini, disini kami akan mencoba menjelaskan dengan singkat tentang peradaban Mesir dan semoga dengan adanya makalah ini bisa membantu pembaca lebih mudah untuk mempelajari tentang peradaban Mesir. 
Mesir memiliki tanah yang paling subur di Afrika dan salah satu dari negara tersubur di sekitar Laut Mediterania. Banyak orang datang dan bermukim di Mesir karena Mesir sangat subur. Dahulu ada dua kerajaan di Mesir, Kerajaan Mesir Atas yang terletak di selatan dan Mesir Bawah yang terletak di utara. Namun, pada awal Zaman Perunggu, raja Kerajaan Mesir Atas berhasil menguasai Kerajaan Mesir Bawah dan menyatukannya menjadi kerajaan baru. Orang-orang memanggil penguasa dari Kerajaan Baru ini Firaun. Orang-orang Yunani dan Ibrani pada dasarnya menggunakan istilah ‘Firaun’. Kata par’o pada bahasa Ibrani memiliki arti rumah yang besar. Kemudian, kerajaan ini terbagi lagi menjadi enam macam periode.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan kebudayaan Mesir ?

1.3    Tujuan
1.      Untuk mengetahui tentang kebudayaan Mesir
1.4 Manfaat
1.      Untuk menambah wawasan para pembaca












1
 
 


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Definisi Kebudayaan
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah g, dan diwariskan dari generasi ke generasi.[1]Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agamadan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar, dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

2.2  Definisi Kebudayaan Menurut Para Ahli
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual, dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

2.3  Bahasa
Bahasa Mesir adalah bahasa Afro-Asia yang sangat erat hubungannya dengan bahasa Berber, bahasa Semit, bahasa Beja. Bahasa ini bertahan sampai abad ke-5 M dalam bentuk bahasa Demotik dan sampai abad ke-17 M dalam bentuk bahasa Koptik. Catatan tertulis dengan bahasa Mesir dari tahun 3200 SM, membuatnya menjadi bahasa tertua yang ditulis. Bahasa nasional Mesir saat ini adalah bahasa Arab, yang menggantikan bahasa Koptik secara bertahap sebagai bahasa sehari-hari selama berabad-abad setelah penaklukkan Islam diatas Mesir. Koptik masih digunakan sebagai bahasa Liturgi oleh gereja Ortodoks Koptik dan gereja Katholik Koptik, serta menjadi bahasa ibu bagi sejumlah orang.
2
 
Berkembang menjadi bahasa Demotik pada tahun 600 SM, ke Koptik pada tahun 200 M dan telah punah pada abad ke-17. Hal ini dapat bertahan sebagai bahasa Liturgis gereja Katholik Koptik. Sistem penulisan Hieroglif Mesir, hieroglif Kurslif, hieratik, demotik dan koptik.

Para ahli membagi bahasa Mesir kedalam enam tahap :
1.      Mesir Kuno (sebelum 2600 SM)
2.      Mesir Lama (2600 SM-2000 SM)
3.      Mesir Pertengahan (2000 SM-1300 SM)
4.      Mesir Akhir (1300 SM-700 SM)
5.      Mesir Demotik (abad ke-7 SM – abad ke-5 M)
6.      Koptik (abad ke-7 SM – abad ke-17 M)
2.4 Pakaian
Tak seperti banyak bangsa di Mediterania kuno yang memakai sepotong atau dua potong kain besar yang dililitkan di sekeliling tubuh dalam berbagai cara, bangsa Mesir mengenakan tunik yang dijahit supaya pas dengan tubuh. Tunik ini mirip kaus yang panjangnya mencapai lutut (untuk pria) dan tumit (untuk perempuan). Pakaian ini biasanya dibuat dari linen dan hampir selalu berwarna putih. Sebagian besar orang Mesir tampaknya jarang mengenakan penutup kepala.
Banyak orang, terutama anak-anak, di Mesir yang bertelanjang kaki ketika bepergian ke manapun. Ini karena mereka merasa tak perlu menggunakan alas kaki. Selain itu, alas kaki dianggap mahal. Sementara orang yang mengenakan alas kaki biasanya memakai sandal yang dibuat dari jerami atau gelagah.
Pria yang sering bekerja di luar ruangan biasanya mengenakan rok pendek alih-alih tunik. Rok ini dipakai seperti di Asia Barat, yaitu dengan cara dililitkan di sekelilingi pinggang dan kaki.
Jika sedang berdandan, baik laki-laki dan perempuan memakai eyeshadow berwarna hijau dan biru serta eyeliner kohl berwarna hitam. Orang juga memakai kohl di sekitar mata untuk mengurangi silaunya sinar matahari. Pria menjaga rambutnya tetap pendek, serta rutin mencukur kumis dan janggut. Sementara perempuan biasanya membiarkan rambutnya terurai hingga bahu. Para pria maupun perempuan kaya senang mengenakan perhiasan mahal.
Pakaian bukan suatu kebutuhan praktis di Mesir Kuno. Mesir (dan sebagian besar daerah di Afrika Utara) dulunya bukanlah daerah gurun. Sebaliknya di sana merupakan negara yang subur tanahnya, daerah penghasil makanan, banyak mata air dan iklimnya hangat serta lembab. Busana adalah barang mewah pada saat itu. Ia tidak memiliki nilai praktis yang besar. Budak dan orang miskin digambarkan hanya memakai sedikit pakaian seperti cawat. Orang dengan strata sosial yang lebih tinggi, memakai pakaian lebih banyak dari sekedar cawat dan juga memakai perhiasan. Bahan pakaian terbuat dari kain yang ringan dan dirancang lebih untuk menonjolkan bentuk tubuh daripada menyembunyikannya. Pakaian Mesir yang paling rumit dipakai oleh Firaun dan ratu mereka sebagai simbol kekuasaan.
3
 
Bangsawan Mesir juga sering mencukur kepala mereka (dan rambut tubuh lainnya). Untuk acara-acara resmi mereka memakai wig dan bukan rambut asli. Kohl atau riasan mata dipakai oleh kedua jenis kelamin, seperti juga parfum dan minyak tubuh. Mereka menuangkan lilin lebah yang dicampur minyak wangi di rambut mereka. Lilin itu akan meleleh oleh suhu ruangan dan menyebarkan aroma wangi.
Perhiasan adalah fokus utama dalam kostum mereka, baik pria maupun wanita. Perhiasan yang kebanyakan terbuat dari emas dan permata banyak yang masih bisa ditemukan dengan utuh. Tetapi contoh kain pada masa itu susah untuk dibuktikan apakah merupakan  linen halus atau bukan. Namun kalau melihat dari gambar-gambar kuno yang sebagian besar menunjukkan bahan lipit putih yang melambai, kemungkinan besar pakaian mereka terbuat dari linen halus. Bentuk baju mereka masih sangat sederhana tetapi sangat efektif di era mereka. Banyak pola didasarkan pada persegi panjang sederhana, dengan sedikit lipit dan sampiran yang dibentuk sedemikian rupa. Lalu di paling atas dihiasi dengan kerah Mesir, sehingga menciptakan jubah kostum megah Mesir.
2.5 Makanan
Makanan Mesir cenderung tidak berubah selama berabad-abad. Makanan sehari-hari biasanya mngandung roti dan bir, dengan lauk berupa sayuran seperti bawang merah dan bawang putih, serta buah-buahan berbentuk biji dan ara. Anggur dan daging biasanya hanya disajikan pada perayaan tertentu, kecuali dikalangan orang kaya yang lebih sering menyantapnya. Ikan, daging, dan unggas dapat diasingkan atau dikeringkan serta direbus atau dibakar.
2.6 Sistem Kepercayaan
Kepercayaan terhadap kekuatan gaib dan adanya kehidupan setelah kematian dipegang secara turub menurun. Kuil-kuil diisi oleh dewa-dewa yang memiliki kekuatan super natural dan menjadi tempat untuk meminta perlindungan.
Masyarakat umum beribadah memuja patung pribadi dirumah masing masing dilengkapi jimat yang dipercaya mampu melindungi dari marabahaya setelah kerajaan baru, peran firaun sebagai peranta spiritual mulai berkurang seiring dengan munculnya kebiasaan utuk memuja langsung Tuhan tanpa perantara. Masyarakat mesir percaya bahwa setiap manusia terdiri dari bagian fisik dan spiritual. Selain badan, manusia juga swt (bayangan), ba (kepribadian atau jiwa), ka (nyawa), dan nama. Jantung dipercaya sebagai pusat dari fikiran dan emosi setelah kematian, aspek spiritual akan lepas dari tubuh dan dapat bergerak sesuka hati, namun mereka membutuhkan tubuh fisik mereka (atau dapat digantikan dengan patung) sebagai tempat untuk pulang.
Dewa-dewa yang disembah pada zaman mesir kuno adalah sebagai berikut :
1.      Dewa Osiris (dewa tertinggi)
2.      Dewa Thot (dewa pengetahuan)
3.      Dewa Anubis (dewa kematian)
4.     
4
 
Dewa Apis (bewujud sapi)
5.      Dewa Ra (dewa matahari) dan kemudia menjadi dewa Amon-Ra (dewa bulan matahari)
2.7 Sistem Pemerintahan
Sebagai kawasan yang berbasis pertanian besar, Mesir Kuno dipimpin oleh seorang Firaun. Di daerah-daerah terdapat 20 provinsi yang masing-masing dipimpin oleh seorang gubernur.
Firaun Mesir Kuno berperan sebagai Raja Dewa (God Kings). Baru pada tahun 2133 SM, Firaun hanya diakui sebagai "keturunan dewa" saja. Pada mulanya, Mesir terbagi menjadi dua, yaitu Mesir Bawah (Hilir/Utara) dengan ibu kota di Memphis dan Mesir Atas (Hulu/Selatan) dengan ibu kota di Thebe. Sejak Firaun Menes dari Wangsa I(3100-2890 SM) berkuasa, kedua Mesir dapat disatukan. Penyatuan ini ditandai dengan mahkota yang dikenakan Menes berupa mahkota bersusun dua. Pehyatuan Menes ini oleh penerusnya dikembangkan dengan ekspansi ke Sudan, Nubia dan Libya.
Pada masa kekuasaan Wangsa lll (2686-2613 SM), pemerintahan dipegang oleh Firaun Joser. Saat itu, Mesir berhasil menguasai daerah Nubia Hilir.
Pada masa pemerintahan Wangsa IV (2613-2494 SM), ada beberapa Firaun yang menonjol di antaranya Khufu, Khafre, dan Menkaure. Pada waktu itu, Mesir berperang dengan Nubia dan Libya. Pada tahun 1674-1567 SM, Mesir diserang dan dikuasai oleh bangsa Hyksos.
Selanjutnya Ahmosis I dari Wangsa XVIII (1567-1320 SM) berhasil mengusir bangsa Hyksos dan mengembalikan kemerdekaan dan kejayaan Mesir. Firaun Thutmosis lll memperluas kekuasaan Mesir sampai dengan tepi Sungai Eufrat.
Pada masa pemerintahan Wangsa XX (1200 SM), kejayaan Mesir perlahan-lahan mulai pudar. Beberapa jajahan Asia melepaskan diri, bahkan tahun 524~04 SM, Mesir dikuasai oleh Persia. Pada masa pemerintahan Wangsa XXVII (404-398 SM) bangsa Persia dapat diusir dari Mesir dengan bantuan Yunani.
Pada tahun 332 SM, Alexander Macedonia menyerbu ke Asia dan Mesir. Sejak itu Mesir dikuasai Yunani sampai dengan pemerintahan Wangsa Ptolomaeus (dengan rajanya yang terkenal, Cleopatra). Mesir jatuh ke tangan Romawi pada tahun 30 SM.

2.8 Tradisi atau Ritual
Setiap negara pasti memiliki berbagai ritual atau tradisi, salah satunya Mesir. Di makalah ini akan dibahas mengenai ritual pernikahan di Mesir dan adat pemakaman orang Mesir.

Mesir memiliki ritual pernikahan yang terbilang sulit pelaksanaannya bila dibandingkan dengan tradisi pernikahan di Indonesia. Lelaki Mesir yang ingin melamar seorang wanita, ia harus mempunyai mahar berupa emas perhiasan lengkap yang mencakup gelang, kalung, cincin, dan jika perlu gelang kaki. Mereka menyebut perangkat ini  dengan “Syabkah”.
Tak hanya itu. Lelaki Mesir juga harus mempersiapkan sebuah rumah beserta isinya agar bisa ditempati bersama sang istri setelah menikah. Bahkan beberapa gadis Mesir meminta kendaraan untuk dijadikan syarat. Jadi, untuk mahar minimal harus tersedia pound kira-kira Rp 600 juta, barulah lamaran diterima. Sulitnya menikah tidak hanya terjadi di Mesir, tetapi juga di hampir semua negara-negara Arab.
Banyak remaja putra maupun putri Mesir yang baru mampu menikah pada usia yang sudah lumayan tua. Ini karena sulitnya persayaratan menikah dalam tradisi Mesir. Pihak lelaki dan wanita harus berusaha keras untuk mempersiapkan semuanya dengan sebaik mungkin. Itu sebabnya ketika satu pasangan berhasil mengatasi ketatnya persyaratan itu, mereka benar-benar merayakannya dengan penuh kemenangan.
Rumah yang disediakan biasanya dibeli kontan. Tapi ada juga yang membelinya secara kredit. Bergantung kemapanan ekonomi sang pengantin pria. Rumah itu nantinya harus atas nama sang istri.
5
 
Tunangan atau acara pernikahan dalam adat masyarakat Mesir benar-benar menjadi acara yang membahagiakan. Orang Mesir menyebutnya dengan nama “farah” yang berarti “bahagia”, sehingga di sela-sela acara itu terlihat jelas kebahagiaan mereka.
Setelah akad nikah biasanya kedua mempelai dan rombongan naik mobil untuk keliling kampung. Klakson mobil dan sepeda motor dibunyikan secara bersamaan, kemudian mempelai menuju tempat dilaksanakannya pesta pernikahan.
Orang Mesir sering mengadakan pesta pernikahan di tempat-tempat terbuka, seperti di pinggir jalan dekat rumah mereka. Tak jarang pula mereka rayakan di pinggir Sungai Nil, sungai kebanggaan rakyat Mesir. Tapi mereka yang mampu biasanya menyewa gedung.
Di tempat pesta, orang Mesir tidak menyediakan makanan berat apa pun. Mereka hanya menyuguhkan makanan ringan seperti molto (roti berisi cokelat) dan syibsi (sejenis kerupuk citato yang terbuat dari kentang). Disediakan juga minuman ringan bermerek.
Sembari mencicipi snack-snack yang disediakan, orang Mesir selalu menghidupkan musik Arab khas Mesir dari albumnya Sa’ad Shugoyyar yang terkenal untuk acara pesta.
Prosesi pernikahan di Mesir biasanya berlangsung pada malam hari, dimulai seusai magrib sampai tengah malam. Baju yang dikenakan kedua mempelai pun cukup satu setel saja, yakni seperti pakaian selayar untuk mempelai wanita dan jas untuk mempelai laki-laki.
Orang Mesir Kuno mempertahankan adat pemakaman yang diyakini sebagai kebutuhan untuk menjamin keabadian setelah kematian. Berbagai kegiatan dalam adat ini adalah : proses mengawetkan tubuh melalui mumifikasi, upacara pemakaman, dan penguburan mayat bersama barang-barang yang akan digunakan oleh almarhum di akhirat.
Sebelum periode Kerajaan Lama, tubuh mayat dimakamkan di dalam lubang gurun, cara ini secara alami akan mengawetkan tubuh mayat melalui proses pengeringan. Kegersangan dan kondisi gurun telah menjadi keuntungan sepanjang sejarah Mesir Kuno bagi kaum miskin yang tidak mampu mempersiapkan pemakaman sebagaimana halnya orang kaya.
Orang kaya mulai menguburkan orang mati di kuburan batu, akibatnya mereka memanfaatkan mumifikasi buatan, yaitu dengan mencabut organ internal, membungkus tubuh menggunakan kain, dan meletakkan mayat ke dalam Sarkofagus berupa batu empat persegi panjang atau peti kayu. Pada permulaan dinasti keempat, beberapa bagian tubuh mulai diawetkan secara terpisah dalam toples kanopik.
6
 
Pada periode Kerajaan Baru, orang Mesir Kuno telah menyempurnakan seni mumifikasi. Pengawetan mumi memakan waktu kurang lebih 70 hari lamanya, selama waktu tersebut secara bertahap dilakukan proses pengeluaran organ internal, pengeluaran otak melalui hidung, dan pengeringan tubuh menggunakan campuran garam yang disebut natron. Selanjutnya tubuh dibungkus menggunakan kain, pada setiap lapisan kain tersebut disisipkan jimat pelindung, mayat kemudian diletakkan pada peti mati yang disebut antropoid. Mumi periode akhir diletakkan pada laci besar cartonnage yang telah dicat. Praktik pengawetan mayat asli mulai menurun sejak zaman Ptolemeus dan Romawi, pada zaman ini masyarakat mesir kuno lebih menitikberatkan pada tampilan luar mumi.
Orang kaya Mesir dikuburkan dengan jumlah barang mewah yang lebih banyak. Tradisi penguburan barang mewah dan barang-barang sebagai bekal almarhum juga berlaku pada semua masyarakat tanpa memandang status sosial. Pada permulaan Kerajaan Baru, buku kematian ikut disertakan di kuburan, bersamaan dengan patung Shabati yang dipercaya akan membantu pekerjaan mereka di akhirat. Setelah pemakaman, kerabat yang masih hidup diharapkan untuk sesekali membawa makanan ke makam dan mengucapkan doa atas nama almarhum.
2.9 Kesenian mesir
Mesir merupakan bangsa yang memiliki peninggalan kebudayaan tertua di dunia (sejak 3400 SM). Bentuk karya karya seni rupa bangsa mesir berupa seni bangunan, seni patung, relief, seni lukis dan seni kriya. Seni bangunan mesir terdiri atas bangunan piramida, mastabaa, dan candi. Peninggalan lainnya berbentuk benda-benda kriya, seperti tembikar, perhiasan, hieroglif dan mahkota.
Hieroglif Mesir merupakan salah satu sistem penulisan paling tua yang dikenal manusi. Beberapa dari tulisan tersebut berasal dari 3.000 SM dan telah digunakan oleh bangsa Mesir selama lebih daro 3.000 tahun. Masyarakat Mesir menggunakan Hieroglif Kursif untuk sastra keagaaan pada papyrus dan kayu. Adapula variasi formal tulisan yang lebih kecil, yang disebut hieratikdan demotic, namun secara teknis tulisan tersebut bukan merupakan hieroglief.
2.10 Arsitektur
Akibat kelangkaan kayu,  kedua bahan bangunan yang dominan digunakan di Mesir kuno adalah dipanggang matahari-bata lumpur dan batu, terutama batu kapur, tetapi juga batu pasir dan granit dalam jumlah yang cukup besar. Dari Kerajaan Lama seterusnya, batu biasanya disediakan untuk makam-makamdan kuil-kuil, sedangkan batu bata yang digunakan bahkan untuk istana raja, benteng, dinding candi Bait dan Putoz, dan untuk anak perusahaan bangunan di kompleks candi.
7
 
Rumah-rumah mesir yang terbuat dari lumpur yang dikumpulkan dari sungai Nil, saat itu ditempatkan dalam cetakan dan dibiarkan kering di bawah terik matahari untuk mengeras untuk digunakan dalam konstruksi.
Jadi, pemahaman tentang arsitektur Mesir kuno didasarkan terutama pada monumen-monumen keagamaan, besar-besaran struktur dicirikan oleh tebal, dinding miring dengan sedikit bukaan, mungkin bergema metode konstruksi yang digunakan untuk memperoleh stabilitas di dinding lumpur. Dengan cara yang sama, yang bertakuk dan hiasan permukaan datar model dari bangunan batu mungkin berasal dari hiasan dinding lumpur. Meskipun penggunaan lengkungan dikembangkan selama dinasti keempat, semua bangunan monumental dan palang pasca konstruksi, dengan atap datar terbuat dari batu besar blok didukung oleh dinding eksternal dan kolom berdekatan.
Dinding eksterior dan interior, serta kolom dan dermaga, ditutupi dengan hieroglif dan gambar-gambar lukisan-lukisan dinding dan ukiran yang dicat warna-warna yang cemerlang. Banyak Mesir motif ornamen yang simbolis, seperti scarab, kumbang atau suci, maka solar disk , dan burung nasar. motif umum lainnya termasuk palem daun, papirus tanaman, dan kuncup dan bunga-bunga teratai. hieroglif yang ditulis untuk tujuan dekoratif dan juga untuk merekam peristiwa bersejarah atau mantra.
Kuil-kuil Mesir Kuno astronomis selaras dengan kejadian-kejadian penting, seperti solstices danequinoxes, memerlukan pengukuran yang tepat pada saat acara tertentu. Pengukuran di kuil yang paling signifikan mungkin telah seremonial yang dilakukan oleh Firaun sendiri.


Bangunan di Mesir mempunyai 3 karakter, yaitu :
·      Bangunan untuk Dewanya yaitu kuil
·      Bangunan makam untuk Firaun/ Rajadewa yang sudah meninggal (rumah abadi/Piramid)
·      Bangunan rumah tinggal biasa untuk orang hidup yang berstrata : istana, rumah bangsawan, rumah rakyat biasa.
8
 

 



BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Letak Geografis Mesir
Daerah Mesir terletak di bagian utara benua Afrika. Batas-batas Mesir adalah:
- Disebelah selatan berbatasan dengan Lybia
- Disebelah barat berbatasan dengan Laut Tengah
- Disebelah timur berbatasan dengan Laut Merah
Berkat adanya sungai Nil, daerah Mesir menjadi daerah yang sangat subur. Seorang sejarahwan bangsa yunani Herodotus menjuluki mesir sebagai hadiah dari sungai Nil.
3.2 Pembagian Zaman pada kebudayaan Mesir
1.    Zaman kerajaan Mesir Tua
Pusat pemerintahan kerajaan Mesir Tua berada di thinis. Raja meses berhasil mempersatukan kerajaan mesir hulu dan kerajaan mesir hilir. Oleh karena berhasil mempersatukan, maka raja meses disebut denan nesutbiti (raja mesir hulu dan raja mesir hilir).
Raja-raja yang terkenal dari zaman kerajaan mesir tua adalah, raja chufu (cheops), chefren, mankaure, dan terakhir pepi II. Setelah raja pepi II meninggal, mesir mengalami kemunduran karena kerajaan terpecah belah dan terjadi perebutan kekuasaan oleh para bangsawan.
2.      Zaman kerajaan Mesir pertengahan
Akibat terjadinya pertentangan dan persaingan antar kaum bangsawan feodal, kerajaan mesir menjadi terpecah belah. Adanya persaingan danpertentangan ini berhasil diatasi dan dipersatukan oleh raja dari kerajaan thebe yang bernama firaun sesostris III.
Dibawah pemerintahan Firaun Sesostris III kesejahteraan rakyat meningkat, karena perdagangan mesir dengan daerah daerah disekitar laut merah berkembang dan ramai. Kerajaan mesir pertengahan akhirnya runtuh karen adanya serangan daribangsa Hyxos yang gemar berperang.
3.    Zaman kerajaaan Mesir baru
9
 
Dibawah pimpinan Firaun Ahmosis I dari kerajaan thebe, bangsa Hyxos berhasil diusir dan ibu kota awaris dapat direbut kembali. Firaun ahmosis I diangkat menjadi penguasa Mesir. Setelah Firaun Ahmosis I meninggal digantikan oleh firaun Thutmosis III yang berhasil menguasai babilonia, Assyria, Cicilia, Cyporus.
Raja-raja kerajaan Mesir Baru Setelah Thutmosis III meninggal adalah : Amend Hotep , Firaun Thutmosis IV, Amend Hotep IV, Firaun Thut-Ankh-Amond, Firaun Haremheb, Firaun Ramses II, dan Firau Ramses III.
3.3 Kebudayaan Mesir
          Sebagian besar masyarakat Mesir Kuno bekerja sebagai petani. Kediaman mereka terbuat dari tanah liat yang didesain untuk menjaga udara tetap dingin disiang hari. Setiap rumah memiliki dapur dengan atas terbuka. Di dapur biasanya terdapat batu giling untuk mengggiling tepung dan oven kecil untuk membuat roti. Tembok dicat warna putih dan beberapa juga ditutupi dengan hiasan berupa linen yang diberi warna. Lantai ditutupi dengan tikar buluh dilengkapi dengan furnitur sederhana untuk duduk dan tidur.

Bangsa Mesir Kuno sangat menghargai penampilan dan kebersihan tubuh. Sebagian besar mandi di Sungai Nil dan menggunakan sabun yang terbuat dari lemak binatang dan kapur. Laki-laki bercukur untuk menjaga kebersihan, menggunakan minyak wangi dan salep untuk mengharumkan dan menyegarkan kulit. Pakaian dibuat dengan linen sederhana yang diberi warna putih, baik wanita maupun pria di kelas yang lebih elit menggunakan wig, perhiasan, dan kosmetik. Anak-anak tidak mengenakan pakaian hingga mereka dianggap dewasa, pada usia sekitar 12 tahun, dan pada usia ini laki-laki disunat dan dicukur. Ibu bertanggung jawab menjaga anaknya, sementara sang ayah bertugas mencari nafkah.

Musik dan tarian menjadi hiburan yang paling populer bagi mereka yang mampu membayar untuk melihatnya. Instrumen yang digunakan antara lain seruling dan harpa, juga instrumen yang mirip terompet juga digunakan. Pada masa Kerajaan Baru, bangsa Mesir memainkan bel, simbal, tamborine, dan drum serta mengimpor kecapi dan lira dari Asia. Mereka juga menggunakan sistrum, instrumen musik yang biasa digunakan dalam upacara keagamaan.

Bangsa Mesir Kuno mengenal berbagai macam hiburan, permainan dan musik, salah satunya adalah Senet, permainan papan yang bidaknya digerakkan dalam urutan acak. Selain itu mereka juga mengenal mehen. Juggling dan permainan menggunakan bola juga sering dimainkan anak-anak, juga permainan gulat sebagaimana digambarkan dalam makam Beni Hasan. Orang-orang kaya di Mesir Kuno juga gemar berburu dan berlayar untuk hiburan.



10
 
 


3.4 Hasil kebudayaan Mesir
1. Tulisan Heiroglyph
Huruf Heiroglyph pada awalnya merupakan huruf gambar. Dari huruf tersebut muncul tulisan batu yang disebut hierotis yang dipergunakan oleh para pendeta Mesir untuk keperluan keagamaan dan huruf demotis yang dipergunakan yang dipergunakan oleh rakyat. Huruf heiroglyph digunakan terus-menerus sampai pada abad ke-5 sesudah Masehi.




2. Piramida
Piramida adalah bangunan raksasa dari batu yang digunakan sebagai makam raja-raja beserta keluarga. Piramida pertama di bangun oleh Imhotep untuk makam Firaun Sozer. Piramida yang paling besar adalah piramida Raja Chufu (Cheops).





3. Sphinx

Sphixn adalah bangunan raksasa dari batu yang berupa singa berkepala manusia yang didirikan di depan sebuah piramida. Sphinx merupakan lambang kekuasaan dan pemerintahan dari seorang raja Mesir yang dimakamkan pada piramida tersebut. Badan Sphinx merupakan lambang kekuatan dari raja yang memerintah, sedangkan kepala sphinx merupakan lambang kebijaksanaan.



11
 
 


4. Kota-kota kuno di Mesir
Kota-kota kuno di Mesir sangat erat hubungannya dengan kekuasaan raja-raja Mesir Kuno. Kota-kota tersebut sebagai berikut :
a. Kota Gizeh, terdapat bangunan piramida yang terbesar dan terkenal (piramida Raja Cheops) dengan ketinggian 137 meter.

b. Kota Deir el Bahri, di kota ini ditemukan bangunan tempat pemujaan masyarakat Mesir seperti Kuil Dewa Amon yang dibangun oleh Ratu Hatshepsut.

c. Kota Abu simbel, ditemukan bangunan kuil yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Ramses II.

d. Kota Memphis dan Thebe, di kedua kota ini terdapat bangunan-bangunan istana yang sangat megah dan indah.

















12
 
 


BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
         Pada periode awal Mesir, selama pemerintahan Kerajaan Tua, Mesir disebut sebagai Kemet yang berarti tanah hitam. Kemudia, penduduk Mesir menyebut kerajaan mereka sebagai Hwt-ka-ptah, yang berarti kuil untuk Ka dan Ptah. Saat ini, kata Mesir sering disebut Misr yang berartinegara.
Mesir kuno adalah sebuah peradaban kuno dibagian timur Afrika Utara, peradaban ini dimulai pada tahun 3150 SM dibawah pemerintahan Firaun pertama. Firaun adalah orang terkuat di mesir kuno. Firaun adalah pemimpin politik dan agama para masyarakat Mesir. Sebagai penguasa dari Mesir Atas dan Mesir Bawah, Firaun menguasai semua tanah, membuat hukum, mengumpulkan pajak, dan melindungi Mesir dari bangsa asing.
Mesir kuno terkenal dengan kehidupan sosial dan budayanya. Peradaban Mesir kuno adalah salah satu peradaban yang pertama kali menggunakan bahasa tulis. Mereka menulis pada makam, tembikar, dan kertas papyrus yang terbuat dari alang-alang yang ditenun. Bahasa pertama Mesir kuno adalah Hieroglif yang terdiri dari gambar, sistem penulisan hieroglif sangat kompleks dan padat karya. Hieroglif pertama digunakan pada bangunan dan makam. Hal ini diyakini bahwa masyarakat Mesir pertama kali mengembangkan sistem penulisan pada sekitar 3000 SM. Mereka percaya bahwa tubuh fisik harus dipertahankan untuk mempersiapkan tempat bagi jiwa mereka untuk menetap setelah kematian. Karena itu, mumifikasi dilakukan untuk mempertahankan tubuh.









13
 
 


14
 
DAFTAR PUSTAKA
1. Bayang,Alde.2015.“Kebudayaan Mesir Kuno”, http://yulia99chaniago.blogspot.co.id/2015/08/kebudayaan-mesir-kuno.html?m=? , diakses pada 25  September 2017 pukul 13.38
2. Shihab,Rijja.2011.”Kebudayaan Mesir”, http://rijjashibabuddin.blogspot.co.id/2011/04/kebudayaan-mesir.html?=1 , diakses pada 25 September 2017 pukul 13.55
3. Suwardana, Vanessa.2011.”Peradaban dan Kebudayaan Mesir Kuno” ,  http://www.kompasiana.com/vanessawong/peradaban-dan-kebudayaan-mesir-kuno­­_5500c8c4a33311351950fd7f , diakses pada 25 September 2017 pukul 14.15
4.Irwanto, Bambang. 2013.”Seni Rupa Mesir” , https://senirupamasa,wordpress.com/2013/10/30/seni-rupa-mesir/, diakses pada 27 September pukul 20.41
5. Megameilisamanara.2015.”Bentuk Pemerintahan dan Sistem Pemerintahan Mesir”, http://megameilisamanara.blogspot.co.id/2015/10/bentuk-pemerintahan-dan-sistem.html?m=1 , diakses pada 27 September pukul 20.46
6.Wikipedia.”Budaya” , https://id.wikipedia.org/wiki/budaya , diakses pada 30 September 2017 pukul 16.45
7.  Sejarah Negara.com , 2016, “4 Peninggalan Kebudayan Mesir Kuno” , http://www.sejarah-negara.com/2014/09/4-peninggalan-kebudayaan-mesir-kuno.html , diakses pada 30 September 2017 pukul 20.56
8.Info, Klik.2011.”Sejarah Pakaian: Mesir Kuno”, http://donotforgetthestory.blogspot.co.id/2011/11/sejarah-pakaian-mesir-kuno.html?m=1 , diakses pada 28 September 2017 pukul 19.29
9. Wikipedia,.”Mesir Kuno/Pakaian”, https://id.m.wikibooks.org/wiki/mesir_kuno/pakaian . diakses pada 28 September pukul 19.40
10. Mega, Dellyani.2013,”Arsitektur Mesir”, http://dellyani.blogspot.co.id/2013/05/arsitektur-mesir_27.html?m=1 , diakses pada 28 September 2017 pukul 20.22

11. Itsmefika.2013. “Adat Pemakaman di Mesir” https://itsmefika.wordpress.com/2013/03/04/adat-pemakaman-di-mesir/ ,diakses pada 23 september 2017 pukul 21.47

Popular posts from this blog

[Ilmu Budaya Dasar] Analisa Puisi "Sajak Putih" Karya Chairil Anwar

[Ilmu Budaya Dasar] Fenomena "Kids Jaman Now"